Baca Berita

PELATIHAN ANTENATAL TERPADU KOTA DENPASAR TAHUN 2016

Oleh : seknid | 27 Juli 2016 | Dibaca : 1032 Pengunjung

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini telah berhasil diturunkan dari 307/100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 202 menjadi 228/100.000 KH pada tahun 2007 (SDKI,2007). Namun demikian masih diperlukan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2010 – 2014 yaitu 118/100.000 KH pada tahun 2014 dan tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s) yaitu AKI 102/100.000 KH pada tahun 2015.

Faktor yang berkontribusi terhadap kematian ibu, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas seperti perdarahan, PE/Eklampsia, infeksi, persalinan macet dan abortus sedangkan penyebab tidak langsung faktor – faktor yang memperberat keadaan ibu seperti empat terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan dan terlalu dekat jarak kelahiran) dan tiga terlambat ( terlambat mnnenali tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlamabat dalam penanganan kegawatdaruratan) dan faktor lainnya adalah ibu hamil yang menderita penyakit menular seperti malaria, HIV/AIDS, TBC, Sifilis dan penyakit tidak menular seperti Hipertensi, Diabetes, gangguan jiwa maupun yang mengalami kekurangan gizi). Selain itu masih terdapat masalah dalam penggunaan kontrasepsi. Menurut data SDKI tahun 2007, angka unmet – need 9,1 %. Kondisi ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan aborsi yang tidak aman yang pada akhirnya menyebabkan kesakitan dan kematian ibu.

Upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi dan balita, meningkatkan status gizi masyarakat serta pencegahan dan penanggulangan penyakit menular masih menjadi prioritas utama. Untuk meningkatkan status kesehatan ibu, puskesmas dan jaringannya serta rumah sakit rujukan menyelenggarakan berbagai upaya kesehatan baik yang bersifat promotif, preventif , kuratif maupun rehabilitatif.

Setiap ibu hamil diharapkan dapat menjalankan kehamilannya dengan sehat, bersalin dengan selamat serta melahirkan bayi yang sehat. Oleh karena itu setiap ibu hamil harus dapat dengan mudah mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapat pelayanan sesuai standar, termasuk deteksi kemungkinan adanya masalah/penyakit yang berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janinnya.

Melihat kenyataan tersebut, maka pelayanan antenatal harus dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan berkualitas agar adanya masalah/penyakit tersebut dapat dideteksi dan ditangani secara dini. Melalui pelayanan antenatal yang terpadu, ibu hamil akan mendapatkan pelayanan yang lebih menyeluruh dan terpadu, sehingga reproduksinya dapat terpenuhi, missed oppotunity dapat dihindari serta pelayanan kesehatan dapat diselenggarakan secara efektif dan efisien.

Hasil pengamatan lapangan yang dilaksanakan secara intensif dalam beberapa tahun terakhir, memperlihatkan bahwa pelayanan antenatal masih terfokus pada pelayanan 10 T (Timbang, tensi, Ukur lila, tinggi fundus, Hitung DJJ, TT, Tentukan Presentasi janin, tablet darah temu wicara dan tes laboratorium). Hal ini menyebabkan berbagai masalah/penyakit yang diderita ibu hamil tidak terdeteksi secara dini, maka melalui dana APBD II Dinas Kesehatan Kota Denpasar menyelenggarakan pelatihan Antenatal terpadu di wilayah Kota Denpasar dengan tujuan :

1. Agar setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin selamat dan melahirkan bayi yang sehat,

2. Para bidan mampu menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan berkualitas, termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil, KB dan pemberian ASI,

3. Para bidan mampu menghilangkan „missed opportunity“ pada ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan berkualitas, Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguan yang diderita ibu hamil,

4. Para bidan mampu melakukan intervensi terhadap kelainan/penyakit/gangguan pada ibu hamil sedini mungkin.

5. Para bidan mampu melakukan rujukan kasus ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan sistem rujukan yang ada

Peserta pertemuan ini terdiri dari Bidan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Bidan Praktek Swasta, Bidan Rumah Bersalin (RB) dan Bidan – bidan RS Pemerintah dan swasta sebanyak 50 orang dengan kriteria :

a. Bidan – bidan yang melaksanakan kegiatan program kesehatan ibu dan anak maupun yang memegang program lain.

b. Bertugas di wilayah Kota Denpasar

Pertemuan ini diselenggarakan di ruang pertemuan Dinas Kesehatan Kota Denpasar mulai dari tanggal 25-27 Juli 2016 dengan narasumber dari :

1. Dinas Kesehatan Provinsi Bali
2. Dinas Kesehatan Kota Denpasar
3. Persatuan Obstetri Gynekologi Indonesia (POGI) Cabang Bali
4. Ikatan Bidan Indonesia (IBI)


Oleh : seknid | 27 Juli 2016 | Dibaca : 1032 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Video
No Video.
Facebook
Twitter