Baca Artikel

KEGIATAN KLINIK PUCUK VCT / IMS PUCUK PUSKESMAS 1 DENPASAR TIMUR

Oleh : dinkes | 05 Mei 2015 | Dibaca : 3343 Pengunjung

 

Analisis Masalah

Penyakit HIV / AIDS merupakan sekumpulan gejala penyakit yang diakibatkan oleh virus HIV sehingga melemahkan daya tahan tubuh seseorang, pada akhirnya menyebabkan seseorang rentan untuk terkena penyakit – penyakit lainnya. Konsentrasi virus HIV terbanyak pada darah, cairan semen, cairan vagina dan air susu ibu. Penularan HIV terjadi melalui kontak / hubungan seksual yang tidak aman, pertukaran jarum suntik tidak steril, penularan dari ibu HIV terhadap bayinya dan tranfusi darah yang tidak diskrining dengan baik. Gejala HIV yang berkembang menjadi AIDS memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar 5-10 tahun sehingga banyak orang yang tidak mengetahui dirinya terjangkit HIV karena perilakunya, turut menularkan penyakit HIV kepada pasangan /partner seks, yang kemudian juga menularkan kepada bayi yang dikandung.

Sejak pertama kali diketahui adanya kasus HIV tahun 1987 di Bali, jumlah kasus HIV semakin lama semakin meningkat. Seiring dengan semakin berkembangnya sarana pemeriksaan HIV (VCT /KTS), sehingga kasus- kasus HIV positif yang selama ini yang merupakan fenomena “gunung es”, kini mulai terbongkar. Estimasi kasus HIV di Bali pada tahun 2012 adalah sebesar 26.139 orang, dengan Kota Denpasar menempati urutan pertama sebagai kota dengan estimasi penderita HIV terbanyak yaitu 9176 (35,1 %). Dari data estimasi itu pula, didapatkan bahwa populasi yang banyak terkena HIV adalah golongan Perempuan Resiko Rendah (sebesar 4005 org) dan pelanggan PSK (sebesar 2398 orang). Dengan banyaknya golongan populasi perempuan resiko rendah yang terkena (nota bene: ibu rumah tangga), menandakan bahwa penyakit HIV sudah mulai menyerang populasi umum, sehingga dikhawatirkan penyakit HIV bukan lagi suatu penyakit epidemi terkonsentrasi, melainkan sudah meluas lebih jauh lagi. Hal ini bisa merupakan dampak dari menjamurnya lokasi – lokasi transaksi seks berupa “kafe-kafe” yang sudah merambah diantara pemukiman warga.

Dari data estimasi yang ada, data riil kasus HIV yang ditemukan masih jauh dibawahnya. Data Juli 2013 tercatat jumlah HIV di Bali sebanyak 8003, dan di Kota Denpasar sebanyak 3210 (40,11 %). Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan masih banyak penduduk yang terkena HIV yang belum terskrining atau tidak mengetahui dirinya sudah tertular penyakit HIV.

Pendekatan Strategis

Dengan meningkatnya kasus HIV terutama di Kota Denpasar, Dinas Kesehatan Kota Denpasar mulai mengembangkan puskesmas – puskesmas yang ada di Kota Denpasar, dari semula 1 puskesmas yang melayani pemeriksaan HIV/IMS (Puskesmas 2 Denpasar Selatan), menjadi 4 puskesmas di tiap kecamatan Kota Denpasar. Puskesmas 1 Denpasar Timur dipilih sebagai salah satu Puskesmas yang memiliki layanan VCT dan IMS karena lokasi yang strategis, dilewati oleh jalanan yang besar dan padat penduduknya serta Kecamatan Denpasar Timur juga memiliki lokasi – lokasi transaksi seks yang belum dijangkau. Pada awalnya dilakukan ujicoba Layanan ANC Terintegrasi pada tahun 2009, dengan sasaran ibu hamil yang diskrining HIV agar tidak menularkan HIV kepada anaknya. Pada Februari tahun 2011, dibuka Layanan Alat Suntik Steril (LASS) untuk mencegah penularan HIV pada pengguna napza suntikan. Layanan VCT dan IMS mulai dibuka pada Agustus 2012 dengan menjaring klien dari internal puskesmas (poli umum, poli gigi, KIA, Poli IMS dan Poli TB) dan mulai mengadakan mobile VCT /IMS ke populasi umum maupun ke lokasi kafe/ rumah kos PSK yang selama ini belum terjangkau. Tujuan utamanya adalah menjaring populasi khusus yaitu waitres kafe, PSK tidak langsung dan Waria / LSL dan juga populasi umum, termasuk ibu – ibu hamil.

Puskesmas sebagai institusi yang cenderung biasanya pasif / menunggu kedatangan pasien / klien, dengan adanya kegiatan mobile VCT/IMS  lebih bergerak aktif mencari klien untuk diperiksa. Terbukti dengan beberapa klien didapati positif HIV saat dilakukan mobile VCT ini, hal ini sulit didapat apabila puskesmas bersifat pasif atau menunggu klien datang.  Di saat kegiatan mobile, puskesmas juga memberikan informasi baik berupa brosur ataupun ceramah /presentasi tentang bahaya HIV serta penularan IMS  sehingga selain untuk menggugah kesadaran memeriksakan HIV juga diharapkan mengubah perilaku seks nya. Beberapa mobile VCT dilaksanakan pada event – event tertentu seperti Hari Aids Sedunia, HUT Universitas dan Pemeriksaan Banjar, dengan tujuan selain untuk pemeriksaan HIV, juga menginformasikan HIV / IMS kepada masyarakat umum dengan harapan bahwa informasi HIV sudah bukan lagi hal yang langka.

Pemberian nomor kontak handphone dalam bentuk kartu nama Klinik VCT/IMS Puskesmas kepada masyarakat umum dan kepada klien yang dikunjungi mobile juga merupakan salah satu bentuk strategi mendekatkan layanan kepada klien/pasien, agar klien/pasien dapat mengontak atau bertanya melalui sms / menelepon bilamana ada keluhan ataupun ingin berkonsultasi. Selain itu, fungsi kartu tersebut adalah sebagai Kartu Berobat / Register Klien. Sehingga bila klien berobat/berkunjung kembali, akan lebih mudah mencari data klien tersebut untuk ditelusuri riwayat pengobatan / pemeriksaannya, juga berguna untuk menghindari terjadinya perekaman ulang / double record. Berikut contoh gambar kartu nama Klinik VCT / IMS :

Selain dengan melakukan kegiatan mobile, klinik VCT puskesmas mengadakan koordinasi dengan Yayasan yaitu Yayasan Gaya Dewata yang kemudian menjadi mitra untuk rujukan pemeriksaan HIV dan IMS. Beberapa klien positif terjaring HIV berkat kerjasama dengan yayasan ini.

Kerjasama internal antar program di puskesmas juga merupakan salah satu bentuk kekuatan atau modal dasar berkembangnya klinik ini. Pada awalnya terkait dengan kendala keterbatasan ruangan kerja, akhirnya klinik yang semula menangani VCT/IMS, juga menangani pemeriksaan IVA yang merupakan bagian dari pemeriksaan program KIA. Dengan disatukannya tempat pemeriksaan IMS dan IVA, seorang klien dapat secara langsung diperiksa apakah terdapat infeksi di bagian kelaminnya ataukah juga ada kecurigaan terkena keganasan / kanker cerviks. Pelayanan yang lebih holistik terhadap klien /pasien, lebih membuat pasien percaya dan bersedia berobat kembali ke puskesmas bilamana terkena penyakit.

Pelaksanaan dan Penerapan

Sementara pelayanan di dalam gedung puskesmas tetap berjalan, puskesmas mulai mendata lokasi – lokasi dan tempat yang akan dilakukan mobile VCT/IMS dan melakukan koordinasi dengan pemilik / penanggung jawab lokasi tersebut. Setelah menentukan waktu kunjungan mobile, tim VCT/IMS melakukan mobile ke lokasi yang sudah disepakati dan melakukan pemeriksaan darah. Pelaksanaan mobile didahului dengan pendataan/pendaftaran klien, yang kemudian dilanjutkan dengan konseling pre test, pengambilan darah dan terakhir postest. Tim VCT juga melakukan pembagian kondom serta brosur tentang HIV/AIDS dan di beberapa lokasi yang memungkinkan, tim VCT juga memberikan penyuluhan berupa presentasi tentang penyakit HIV serta penyakit IMS. Bilamana didapati klien yang positif HIV, klien langsung dipertemukan dengan Petugas Lapangan VCT Puskesmas, untuk dapat ditindaklanjuti dan dipantau pengobatannya ke Rumah Sakit Wangaya/RSUP Sanglah/Yayasan Kerthi Praja. Tujuan pengenalan dengan Petugas Lapangan (PL) supaya klien yang terdeteksi HIV positif tidak sampai lepas pantauan dan sesuai strategi SUFA (Strategic Use of ARV), bagi klien- klien yang termasuk populasi khusus agar dapat lebih segera mengakses ARV (Anti Retroviral Therapy)tanpa memandang kadar CD4nya.

Berikut adalah daftar lokasi – lokasi yang dikunjungi dalam mobile VCT/IMS Puskesmas 1 Denpasar Timur  :

 

Tabel 1 : Daftar Lokasi yang dikunjungi Mobile VCT/IMS Puskesmas 1 Dentim :

 

TGL

LOKASI

JUML KLIEN

POSITIF HIV

APRIL-JUNI 2013

CV KECHAK

27

 

 

PUSTU

21

 

JULI-SEPT 2013

CV CEMETI KARYA

10

 

SD 6 SARASWATI

10

 

YEH AYA

11

1

PUSTU

22

 

OKT-DES 2013

MATAHARI MALL

29

2

RAMAYANA MALL

32

 

RTC GATSU

13

 

JAN-MAR 2014

KLINIK BIDAN NURIASIH

22

 

INNA GRAND BALI BEACH

21

 

RB BUNDA SETIA

40

 

BANJAR PAGAN KELOD

19

 

APR-JUNI 2014

YEH AYA

11

1

KAFE BBS

10

4

KAFE JINENG DALEM

10

 

KANTOR IMIGRASI

59

 

KAFE JANGER

11

1

HOTEL ASTON

15

 

HOTEL COSMIC

15

 

JULI-SEPT 2014

BR MANDALASARI

18

1

UNIV WARMADEWA

27

 

KOPERTIS

11

 

KAFE BBS

15

 

OKT-DES 2014

KAFE JANGER

11

 

KAFE BANGKIT

12

 

KAFE COSMIC

10

 

KLINIK BIDAN NURIASIH

17

1

JAN-MAR 2015

KAFE MAHKOTA

10

 

KAFE NEW CLASSIC

10

 

KAFE COSMIC

10

 

KAFE JANGER

15

1

KAFE BBS

17

 

KAFE FLAMBOYAN

3

 

RB BUNDA SETIA

27

 

 

Kegiatan mobile VCT ini diprakarsai oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar dan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dengan dana yang didapat dari Global Fund. Namun koordinasi dengan pemangku yang terlibat yaitu KPA Kota Denpasar, Yayasan Kerthi Praja, Yayasan Gaya Dewata, Klinik Merpati RSUD Wangaya, Klinik Nusa Indah RSUP Sanglah, Kelian adat, Pimpinan Instansi /perusahaan yang di kunjungi, pemilik kafe, Rumah Bersalin Swasta, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tetap diperlukan agar pelaksanaan mobile berjalan sesuai yang dijadwalkan.

Adapun sumber pendanaan mobile yang selama ini berlangsung itu didapat dari Global Fund yang dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali, diberikan menurut klaim jumlah perkali mobile. Di dalam pelaksanaan mobile, tim VCT/ IMS Puskesmas 1 Denpasar Timur dibantu oleh petugas lapangan  yang dikontrak oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Sarana dan prasarana yang digunakan baik berupa reagen, alat pengambilan darah, alat pengambilan swab/sampel kelamin, kondom serta perlengkapan lainnya didapat dari APBD I, APBD II Kota Denpasar, KPA Kota Denpasar.

Keberhasilan yang terlihat dari kegiatan ini dapat dilihat dari meningkatnya angka / jumlah klien yang diperiksa dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

 

Tabel 2. Jumlah Klien yang dilayani Klinik VCT/IMS Puskesmas 1 Dentim :

 

TAHUN /BULAN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

TOTAL

2011

3

6

9

7

12

5

5

2

1

3

7

6

66

2012

4

4

4

3

11

9

7

4

10

8

9

7

80

2013

7

13

8

7

50

55

41

47

62

42

66

133

531

2014

30

92

132

153

124

37

71

51

94

92

59

41

976

2015

56

101

138

129

 

 

 

 

 

 

 

 

424

 

Dengan semakin bertambahnya klien yang mengakses layanan ini, menandakan bahwa informasi tentang HIV / IMS semakin banyak dikenal dan pemeriksaan HIV bukan lagi merupakan pemeriksaan yang “ditakuti” atau tabu, melainkan pemeriksaan yang bisa dikerjakan rutin sebagaimana pemeriksaan darah untuk penyakit lainnya. Dengan kata lain, hal ini berguna dalam mengurangi stigmatisasi terhadap penyakit HIV itu sendiri.

Selain dari bertambahnya jumlah klien, keberhasilan yang bisa dilihat lainnya adalah ditemukannya beberapa kasus positif HIV baru pada beberapa lokasi mobile, sehingga lambat laun bisa membongkar fenomena gunung es yang selama ini sulit dipecahkan. Memang tidak dipungkiri bahwa dari beberapa kasus baru HIV positif yang didapat, ada yang masih dalam tahap “pengingkaran / denial “, sehingga sulit untuk diajak untuk segera berobat dan mengakses ARV. Namun pada kasus lain, ada yang menjadi klien yang patuh berobat /mengakses ARV.

Pemantauan yang dilakukan terhadap kegiatan Klinik VCT / IMS ini dilakukan secara rutin oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar melalui pertemuan 4 bulanan (Quarterly Meeting), dimana kemajuan, kendala yang dihadapi, kritikan dan sebagainya dibahas secara bersama dan dilaporkan juga kepada Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Adapun kendala yang dihadapi didalam kegiatan ini adalah keterbatasan tenaga petugas yang ada, termasuk petugas laboratorium yang hanya 1 orang. Puskesmas 1 Denpasar Timur adalah puskesmas yang membuka pelayanan 12 jam dengan rawat inap kebidanan dan UGD 24 jam. Dengan demikian, tentunya akan memerlukan tenaga medis yang lebih banyak. Sehingga pada beberapa kesempatan, Klinik VCT/IMS sementara tutup karena ketiadaan petugas yang harus stanby di tempat. Solusi yang selama ini dijalankan adalah berupa perjanjian lebih awal dengan klien yang hendak berobat untuk menentukan waktu kontrol, sehingga klien kontrol pada waktu petugas stanby. Bilamana petugas laboratorium yang tidak sedang berada di tempat, klien diperiksa terlebih dulu dan diambil sampel (darah untuk pemeriksaan HIV dan sampel kelamin untuk pemeriksaan IMS), kemudian diberikan obat sementara dan kontrol pada hari lainnya setelah pemeriksaan lab dikerjakan.

Kendala lainnya adalah kesulitan pada awal mengakses/berkoordinasi dengan pemilik lokasi yang dikunjungi mobile, terutama kafe. Beberapa pemilik kafe menolak dikunjungi dengan alasan mereka tidak menyediakan jasa lain selain minuman. Setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Denpasar, akhirnya ditempatkan seorang petugas lapangan (tenaga kontrak) yang bertugas menjembatani Klinik VCT/IMS dengan pemilik lokasi. Cara ini lebih berhasil karena petugas lapangan tersebut merupakan orang lokal di wilayah itu, sehingga lebih mudah diterima dan akhirnya bersedia dikunjungi.

Dampak dan Berkelanjutan

Dengan berbagai usaha yang telah dilakukan tersebut, Klinik VCT/IMS Puskesmas 1 Dentim lebih banyak dikenal , baik oleh populasi umum maupun “populasi khusus” (= waitres kafe, kelompok GWL). Sehingga klien sudah tidak canggung lagi untuk datang langsung ataupun menghubungi melalui sms / hp terlebih dahulu untuk mengadakan perjanjian, baik itu untuk berobat IMS maupun untuk memeriksa ulang HIV.  Dengan cukup banyaknya kunjungan ulang klien / pasien klinik VCT/IMS menandakan bahwa klien yang dilayani selama ini sudah cukup percaya dan merasa “nyaman’’ untuk berobat /diperiksa di Klinik VCT / IMS Puskesmas 1 Dentim. Dampak lain dari kegiatan mobile ini adalah cukup banyaknya ditemukan klien positif HIV baru dari total kasus yang ditemukan positif di Klinik VCT/IMS Puskesmas 1 Dentim. Pada tahun 2013, ditemukan sebanyak 5 klien positif HIV baru dimana 3 (60%) klien diantaranya didapat dari kegiatan mobile. Pada tahun 2014, dari sebanyak 26 kasus positif HIV baru, sebanyak 8 (30,8%) klien dijaring melalui kegiatan mobile dan tahun 2015 ini (sampai bulan April 2015) , sebanyak 1 (20%) kasus positif HIV baru ditemukan melalui mobile dari total 5 kasus positif HIV baru. Sebagaimana kita ketahui bahwa penyakit HIV/AIDS saat ini masih merupakan fenomena gunung es yang perlu dibongkar sehingga kasus – kasus positif HIV yang belum terdeteksi dapat diketahui lebih awal. Hal ini berimbas pada pemantauan / pengobatan yang lebih dini (terutama pada populasi kunci – dengan strategi SUFA), sehingga diharapkan mengurangi penyebaran HIV dan menekan jumlah kasus HIV. Klien – klien yang sudah terjaring positif HIV diberikan pilihan rujukan pengobatan: YKP (Yayasan Kerthi Praja), Klinik Nusa Indah RSUP Sanglah atau Klinik Merpati RSUD Wangaya. Dengan sudah terjalinnya jejaring HIV/AIDS Kota Denpasar yang cukup baik, pihak yang merujuk (=Puskesmas 1 Denpasar Timur) segera mengontak Klinik RS yang dituju untuk memastikan klien benar – benar sampai ke tujuan dan mendapatkan penanganan, sebagai umpan baliknya dari pihak rumah sakit akan memberikan informasi bahwa klien sudah mendapatkan penanganan (baik melalui sms, kontak BB  ataupun pertelepon).

Kegiatan mobile VCT/IMS saat ini sudah dilakukan oleh 4 puskesmas Kota Denpasar, dengan pendanaan dari Global Fund. Namun dengan rencana berakhirnya pendanaan Global Fund pada Juni 2015, diharapkan pemerintah daerah / kota, dapat mengalokasikan dana untuk kelanjutan kegiatan ini.

Dengan adanya pelatihan On Job Training di RSUD Wangaya yang diprakarsai oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar, terdapat 4 puskesmas kota yang akan dibuka pelayanan CST Jejaring RSUD Wangaya, salah satunya adalah Puskesmas 1 Denpasar Timur. Tim yang dikirim meliputi dokter, perawat, bidan, administrasi dan tenaga farmasi. Dengan adanya rencana pembukaan layanan CST pada pertengahan tahun 2015 ini, diharapkan ODHA akan lebih mudah mengakses ARV karena jarak yang lebih dekat dan jumlah antrian yang lebih sedikit daripada di rumah sakit.

Kegiatan upaya pemberantasan penyakit HIV dan IMS merupakan kegiatan yang seolah tiada akhir karena semakin banyak kegiatan yang dilakukan, semakin banyak kasus yang terungkap. Sehingga dibutuhkan semangat yang tinggi dan kerelaan untuk menyisihkan waktu untuk siap dihubungi oleh klien setiap waktu karena pasien ODHA cenderung lebih sensitif dan merupakan kasus yang spesifik (pengobatan yang seumur hidup).


Oleh : dinkes | 05 Mei 2015 | Dibaca : 3343 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :

 



Video
No Video.
Facebook
Twitter