Baca Berita

INOVASI PELAYANAN PUBLIK DINAS KESEHATAN KOTA DENPASAR “GEMA PETIK”(GERAKAN MANDIRI PEMANTAU JENTIK)

Oleh : seknid | 26 Juli 2017 | Dibaca : 349 Pengunjung

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Denpasar. Kasusnya semakin tahun semakin meningkat dan cenderung terjadi kejadian luar biasa/wabah. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes terutama Aedes aegypti.Obat untuk membasmi virus dengue belum ditemukansedangkan vaksin untuk mencegahnya  sangat mahal dan hanya dapat memberikan perlindungan 60% saja, sehingga satu-satunya cara jitu yang paling efektif dan efisien untuk mencegah dan mengendalikan DBD adalah dengan memberantas nyamuk Aedes aegyptidengan membasmi jentik-jentik yang ada di tempat perindukannya, yaitu genangan air bersih dengan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN DBD)dengan cara 3M–Plus (menguras, menutup tempat penampungan air dan menyingkirkan/mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan), plus menaburkan bubuk abate/larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, dan lain sebagainya

Demam Berdarah DBD dengan Angka Kesakitan (Incidence Rate/IR)  sangat tinggi, kasusnya semakin tahun semakin meningkat dan cenderung terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB)/Wabah sehingga sangat meresahkan masyarakat termasuk para wisatawan. Pada tahun 2015 tercatat 1576 masyarakat Kota Denpasar terserang DBD dengan IR= 216,1 per 100.000 penduduk, 14 orang diantaranya meninggal dunia (Case Fatality Rate/CFR) = 0,89%. Pada Tahun 2016, dalam waktu 7(tujuh) bulan (Januari - Juli 2016) telah terdapat 1679  kasus DBD (IR =  255,69 per 100.000 penduduk) dan 14 orang diantaranya meninggal dunia (CFR = 0,83%).

Keadaan tersebut disebabkan oleh masih ada 20-40% rumah dan tempat-tempat umum tidak bebas jentik. Sebanyak 78,8% masyarakat tidak melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN DBD) dengan 3 M Plus.

Pola pikir masyarakat masih mengharapkan fogging dari pemerintah untuk pencegahan dan pengendalian penyakit DBD tersebut. Fogging/pengasapan dengan insektisida hanya dapat membasmi nyamuk dewasanya saja sedangkan jentiknya tidak sehingga tidak efektif untuk memberantas DBD bila tidak disertai dengan PSN DBD.Oleh karena itu partisipasi dan kemandirian masyarakat dalam melaksanakan Gerakan PSN DBD dengan cara 3M – PLUS sangat penting untuk ditingkatkan secara maksimal dan menyeluruh.

 

5. Kebijakan

5.1  Mengutamakan Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat dengan melaksanakan: PSN – 3M PLUS

5.2 Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) tiap hari, dengan metode kunjungan dari rumah-rumah dan minimal tiap 1 Minggu sekali  oleh tiap rumah tangga

5.3 Pengasapan pilihan terakhir ketika ada kasus dan ada indikasi fogging (sesuai persyaratan fogging fokus) dan pada saat timbul KLB

5.4 PESAN yang FOKUS dan dimengerti oleh Masyarakat antara lain melalui PENDEKATAN KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU dengan strategi Kunjungan dari rumah nke rumah

5.5 Rekruitmen tenaga JUMANTIK dan KOORDINATOR JUMANTIK

 

6. Program Inovasi

                Keberhasilan upaya pencegahan dan pengendalian DBD 90% ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam memberantas sarangnyamukdengan cara 3M –PLUS.Upaya tersebut tidak mungkin dikerjakan sendiri, secara sepihak atau oleh sekelompok individu belaka, harus melibatkan peran serta seluruh warga masyarakat tanpa kecuali. Untuk itu Pemerintah kota Denpasar melalui Dinas Kesehatan meluncurkanprogram inovatif untukmeningkatkan pemahaman, partisipasi dan kemadirian masyarakat dalam melaksanakan gerakan PSN DBD yaituprogram “GEMA PETIK”(Gerakan Mandiri Pemantau Jentik).

Pada masing-masing rumah tangga ditunjuk salah satu anggota keluarga oleh kepala keluarga sebagai juru pemantau jentik mandiri (self Jumantik), kemudian dilatih, dibina dan didampingi serta dipantau ke rumahnyasecara berkelanjutan setiap bulan oleh Jumantik Pemerintah Kota Denpasar (474 orang) dalammelakukan pemantauan jentik dan pemberantasan sarang nyamuk DBD (PSNDBD)secara berkelanjutan di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing dan dibekali dengan bubuk larvasida/abate serta brosur pencegahan DBD.

Pilot projectprogram “GEMA PETIK” ini pada awalnya dilaksanakan pada 152 rumah tangga di Banjar Lantang Bejuh, Kelurahan Sesetan Kecamatan Denpasar Selatan yang dipilih secara acak dari 516 rumah tangga yang ada. Sebelum inovasi dilaksanakan, Angka Bebas Jentik (ABJ) di wilayah ini sangat rendah yaitu 80,92%  jauh dibawah target program pencegahan dan pengendalian DBD (ABJ >95%) dankasusDBD yang terjadi rata-rata 3 kasus per bulan (20 kasus dari bulan januari-agustus 2016).Setelah 3 (tiga) bulan berjalan dan dilakukan evaluasi, ternyataprogram ini memberikan manfaat yang sangat luar biasa dimanaAngka bebas jentik (ABJ) meningkat dari 80,92% menjadi 97,37%  dan kasus DBD menurun dari 3 kasus per bulan menjadi 1 kasus per bulan dalam waktu 3 bulan(Oktober 2016 –Desember 2016)

 

7. Unsur-unsur rencana aksi yang telah dikembangkan untuk melaksanakan inovasi pelayanan publik ini, termasuk perkembangan dan langkah-langkah kunci, kegiatan-kegiatan utama serta kronologinya

a) Komunikasi dan koordinasi Kepala Bidang Bina Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid. Bina P2P)  dengan  Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar (25-08-2016)terkait rencana implementasi program inovatif ”GEMA PETIK” sesuai arahan pimpinan (Bapak Walikota Denpasar)

b) Rapat persiapan internalantara Sekretaris Dinas Kesehatan, Kabid. Bina P2P, para kasidan staf bidangP2P serta Kasi Promosi Kesehatan(Promkes) bidang Kesehatan Masyarakatdi dinas kesehatan (26-08-2016),membahas tentang rencana kegiatan yang akan dilaksanakan.

c) PembentukanTim Pelaksana “GEMA PETIK” Kota Denpasar dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar Nomor: 800/5104/Dikes, Tanggal 26 Agustus 2016. (Tim terdiri dari unsur kepala dinas, sekretaris dinas, kabid, kasi dan staf di bidang Bina P2P, Kasi Promkes bidang Bina Binkesmas, kepala puskesmas,  pemegang program DBD Puskesmas I Denpasar Selatan, juru pemantau jentik (jumantik) dan koordinator jumantik Kelurahan Sesetan).

    d) Penyusunan buku pedoman “GEMA PETIK”, penyiapan bubuk larvasida dan  brosur pencegahan DBD oleh TIM pelaksana GEMA PETIK (26-29 Agustus 2016). Rapat koordinasi Tim Pelaksana “GEMA PETIK” dilaksanakan  di Dinas Kesehatan (5-9-2016),

e) Rapat Tim Pelaksana Gema Petikdipimpin oleh Kepala Dinas Kesehatan untuk penyamaan persepsi dan komitmen bersama serta finalisasi jadwal kegiatan

f) Pembekalan kepadajumantik dan koordinator jumantik se - Kelurahan Sesetan tentang program “GEMA PETIK”,tatacara pembinaan dan pendampingan self jumantik,  pemantauan dan evaluasi di lapangan.

g) Kunjungan dari rumah ke rumaholeh JUMANTIK untuk mendata calon self jumantik yang ditunjuk oleh kepala keluarga, mensosialisasikan “GEMA PETIK”, tugas self jumantik, cara melaksanakan PJB dan PSN DBD dan mendistribusikan bubuk abate, brosur DBD, kartu pemeriksaan jentik rumah dansurvei jentik  untuk mengetahui Angka Bebas Jentik (ABJ) awal sebelum kegiatan “GEMA PETIK” dilaksanakan. Dari 152 rumah calon self jumantik yang disurvei ditemukan 29 rumah yang positif jentik (House Index = 19,08%, ABJ = 80,92%).

h) Rapat koordinasi tim pelaksana dengan stakeholdersdilaksanakan di Kelurahan Sesetan (22-09-2016), dipimpim oleh Kepala Dinas Kesehatan didampingi Kabid  Bina P2P dan Bapak Lurah Sesetan untuk melakukan sosialisasi dan memperoleh dukungan dari stakeholder.

g)Setelah itudilakukan sosialisasi pentingnya“GEMA PETIK” dalam pencegahan dan pengendalian DBD, bertempat di balai banjar Lantang Bejuh (24-09-2016) kepada  anggota masyarakat, tokoh masyarakat dan Tp. PKK Banjar Lantang Bejuh, dilanjutkan dengankegiatan gotong royong kebersihan dan sosialisasi di lingkungan Gumuk Sari Banjar Lantang Bejuh (2-10-2016)warga laki-laki banjar Lantang Bejuh. Self Jumantik yang telah didata dikukuhkan dengan Surat Keputusan Kepala Kelurahan Sesetan nomor 13 tahun 2016, Tanggal 28 September 2016.

i) Pembinaan dan pendampingan Self Jumantik oleh jumantik di rumah masing-masing dalammelakanakan PJB dan PSN DBD serta cara mengisi kartu pemeriksaan  jentik rumah(3-10 Oktober 2016)

 j) Launching program “GEMA PETIK” oleh Bapak Walikota Denpasarpada Tanggal 11 Oktober 2016di Lapanan Pegok Sesetan, dihadiri oleh unsurDPRD Kota Denpasar, Ketua Tp. PKK Kota Denpasar, Kepala SKPD, camat, kepala puskesmas, kepala desa/lurah se Kota Denpasar dan sekolah tingkat SD dan SMP di Kelurahan Sesetan.

k) Pembinaan dan pendampingan self jumantik secara berkelanjkutan  oleh jumantik dan pengawasan kinerja jumantik di lapangan  oleh tim pelaksana Gema Petik Kota Denpasar secara acak.

     l) Pengem,banganprogram “GEMA PETIK” ke desa/kelurahan lainnya di Kota Denpasar.

   m) Evaluasi program GEMA PETIK.

     Setelah 3 bulan berjalan terjadi peningkatan angka bebas jentik (ABJ) yang signifikan, yakni dari 80,92% menjadi 97,37% (> 95%) dan kasus DBD menurun dari 3 kasus per bulan menjadi 1 kasus per bulan. Saat ini self jumantik telah mencapai 44.242orang dari 143.174 KK yang ada di Kota Denpasar.

8. Biaya untuk sumber daya keuangan, teknis dan manusia yang berkaitan dengan inovasi pelayanan publik ini

Program inovasi “Gema Petik” melalui pembentukan Jumantik Mandiri (Self Jumantik) merupakan gerakan pemberdayaan masyarakat yang murni bersifat swadaya masyarakat yaitu dari, oleh dan untuk masyarakat, pemerintah hanya berfungsi sebagai inisiator, fasilitator dan motivator. Biaya hanya dibutuhkan untuk  kegiatan rapat-rapat koordinasi, sosialisasi, pengadaan logistik berupa bubuk larvasida (abate), buku pedoman bagi kader jumantik, leaflet/brosur DBD, sticker DBD, jasa jumantik dan koordinator jumantik yang sudah biasa dilaksanakan sejak tahun-tahun sebelumnya. Pembiayaan tersebut bersumber dari APBD Kota Denpasar melalui DPA di Dinas Kesehatan Kota Denpasar tahun 2016 yang dilanjutkan pada DPA tahun 2017 dan seterusnya.

 

9. Keluaran Konkrit yang Mendukung Keberhasilan Inovasi Pelayanan Publik Ini

1) Tingginya perhatian dan komitmen pimpinan daerah (Bapak Walikota Denpasar) terhadap pelaksanaan program gema petik

2) Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya PSN DBD dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD;

3)Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam gerakan pemberantasan sarang nyamuk;

4)Meningkatnya perhatian dan partisipasi kepala desa/lurah dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD.

5) Terbentuknya self jumantik (jumantik-jumantik mandiri) pada setiap rumah tangga;44242  orangdari 143174 KK yang ada.

 

10. Dampak dari inovasi pelayanan publik ini

a) Meningkatnya angka bebas jentik dari 80,92% menjadi 97,37%  dan menurunnya kasus DBD menurun dari 3 kasus per bulan menjadi 1 kasus per bulan dalam waktu 3 bulan(Oktober 2016 –Desember 2016) di lokasi pilot proyek program.

b) Menurunnya kasus DBD di Kota Denpasar sebanyak 45% yaitu dari 1421 kasus periode Januari – Juni 2016 menjadi 786 kasus pada periode januari – Juni 2017.

c) Menurunnya kematian akibat DBD dari 12 orang periode Januari – Juni 2016 menjadi 4 orang periode Januari – Juni 2017.


Oleh : seknid | 26 Juli 2017 | Dibaca : 349 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Video
No Video.
Facebook
Twitter