Virus Corona (COVID-19)

  • 11 Maret 2020
  • Oleh: Dinas Kesehatan Kota Denpasar
  • Dibaca: 2061 Pengunjung

CORONAVIRUS DESEASE 2019
(COVID-19) Penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru Merupakan kelompok virus penyebab  influensa  ringan sampai berat (Middle East Respiratory Syndrome /MERS dan Severe Acute Respiratory Syndrome /SARS)

Apa itu coronavirus?

  • Coronavirus adalah keluarga besar dari penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) and Middle East Respiratory Syndrome (MERS).
  • 7 Januari 2020 outbreak di Wuhan, WHO mengkonfirmasi jenis Coronavirus yg baru yg dinamai Novel Coronavirus  (nCoV)

Darimana coronaviruses berasal ?

  • Coronaviruses merupakan virus zoonosis (dapat menular pada hewan maupun manusia)
  • SARS-CoV ditularkan dari musang ke manusia di China Thn 2002 and MERS-CoV ditularkan dari unta ke manusia di Saudi Arabia thn 2012
  • Terdapat juga beberapa jenis coronavirus hanya menginfeksi pada hewan tetapi tidak menginfeksi pada manusia

Virus corona dapat ditularkan dari orang ke orang, terutama jika ada kontak dekat

Petugas kesehatan yang merawat pasien yang terinfeksi tanpa menerapkan standar perlindungan diri yang baik (tanpa APD, tdk cuci tangan dll)

 

STATEMENT WHO 30 JANUARI 2020

  • WHO telah mengumumkan bahwa nCoV saat ini dikategorikan sebagai public health emergency of international concern (PHEIC).
  • Tidak ada bukti kuat penularan antar manusia, namun bukan berarti hal ini tidak akan terjadi karena masih banyak hal yang belum diketahui mengenai penyakit ini, seperti sumber penularan dan tingkat keparahannya.
  • WHO tidak merekomendasikan restriksi perjalanan ke Cina , namun diharapkan semua negara tetap meningkatkan kewaspadaannya terhadap pelaku perjalanan yang baru tiba dari Cina
  • informasi mengenai corona virus dan pedoman teknis dan rekomendasi untuk mencegah penularan tersedia di website  WHO

 

Gejala Klinis

  • Demam 90% kasus, 
  • Letih-lemah-lesu dan batuk kering 80%, 
  • Sesak  20%,
  • Distress pernapasan 15%.
  • Rontgen dada memberikan gambaran adanya perubahan di kedua lapangan paru.
  • Vital sign umumnya stabil saat dalam perawatan.
  • Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah umumnya memberikan gambaran hitung sel darah putih yang rendah (leukopenia dan limfopenia). 

 

Vaksinasi dan Pengobatan

  • Saat ini belum tersedia vaksin 2019-nCoV.
  • Vaksin yang beredar untuk pneumonia akibat mikroorganisme yang lain

Pengobatan bersifat supportif sesuai dengan gejala yang ada

Penularan antar manusia yang terjadimasih  terbatas pada keluarga pasien, petugas kesehatan yang merawat pasien dan kontak erat dengan kasus konfirmasi

Deteksi Dini dan Respon di Pintu Masuk Negara

Jika memenuhi kriteria kasus suspek maka dilakukan respon berupa:

  • Tatalaksana kasus dan rujuk ke RS rujukan
  • Lakukan tindakan penyehatan terhadap barang dan alat angkut
  • Mengidentifikasi penumpang lain yang berisiko (kontak erat)
  • Terhadap kontak erat (dua baris depan belakang kanan kiri) dilakukan: karantina minimal 1 kali masa inkubasi terpanjang, pemberian HAC dan komunikasi risiko
  • Notifikasi ke Ditjen P2P melalui PHEOC ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi dan dilakukan pencatatan.

Jika tidak memenuhi kriteria kasus suspek maka dilakukan respon sebagai berikut:

  • Tatalaksana kasus sesuai diagnosis yang ditetapkan
  • Orang tersebut dapat dinyatakan laik/tidak laik melanjutkan perjalanan dengan suatu alat angkut sesuai dengan kondisi hasil pemeriksaan
  • Pemberian HAC dan komunikasi risiko mengenai infeksi coronavirus, informasi bila selama masa inkubasi mengalami gejala sesuai definisi kasus maka segera memeriksakan ke fasyankes dengan menunjukkan HAC kepada petugas kesehatan.
  • KKP mengidentifikasi daftar penumpang pesawat, dengan maksud bila kasus tersebut mengalami perubahan manifestasi klinis sesuai definisi kasus suspek maka dapat dilakukan contact tracing.
  • Pada penumpang dan kru lainnya yang tidak berisiko juga dilakukan pemeriksaan suhu menggunakan thermal scanner, pemberian HAC dan komunikasi risiko.

Prinsip-prinsip dasar untuk mengurangi risiko umum penularan infeksi pernapasan akut meliputi :

  • Menghindari kontak dekat dengan orang yang menderita infeksi pernapasan akut.
  • Sering mencuci tangan, terutama setelah kontak langsung dengan orang yang sakit atau lingkungannya.
  • Menghindari kontak tanpa perlindungan dengan peternakan atau hewan liar.
  • Orang dengan gejala infeksi pernapasan akut untuk etika batuk (pertahankan jarak, batuk dan bersin dengan tisu atau pakaian sekali pakai, dan cuci tangan).
  • Pada fasilitas layanan kesehatan, tingkatkan praktik pencegahan dan pengendalian infeksi standar di rumah sakit, terutama di unit gawat darurat.
  • Bagi wisatawan dengan gejala yang menunjukkan penyakit pernapasan baik selama atau setelah perjalanan, dianjurkan untuk berobat ke Fasilitas pelayanan kesehatan setempat

Untuk pelaku pariwisata diharapkan :

  • Komunikasi risiko kepada wisatawan dan ikut mengkaunter adanya hoak
  • Klinik hotel agar melaporkan kasus yang ditemukan kepada Puskesmas di wilayahnya
  • Hotel dapat bekerjasama dan memberikan akses kepada petugas kesehatan (Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota, Dinkes Provinsi) yang melakukan ivestigasi dan pemantauan

 

PESAN UNTUK MASYARAKAT

Untuk mencegah penularan COVID-19, masyarakat perlu melakukan :

  • Menerapkan PHBS dan Germas, terutama mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
  • Masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker bila sedang sakit dan membatasi kegiatan sosial. Selain itu terapkan etika batuk dan bersin yaitu apabila batuk/bersin tutup dengan menggunakan lengan atas bagian dalam atau tisu. Apabila menggunakan tisu, harus segera dibuang ke tempat pembuangan sampah yang tertutup.
  • Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tetap waspada. Apabila mempunyai riwayat perjalanan ke negara terjangkit yang sedang mengalami transmisi lokal, lakukan pemantauan kesehatan secara mandiri dan apabila mengalami gejala pernafasan segera ke fasilitas kesehatan, memakai masker dan membatasi kontak dengan orang lain.
  • Masyarakat dihimbau untuk menunda atau membatasi perjalan yang tidak mendesak ke negara terjangkit, terutama ke negara-negara dengan peningkatan kasus yang cukup tinggi. Apabila tetap harus melakukan perjalanan ke negara terjangkit, masyarakat dihimbau untuk menerapkan PHBS, GERMAS, dan etika batuk serta sebisa mungkin menghindari kontak dekat dengan siapapun yang menderita demam dan batuk.
  • Memantau perkembangan terkini mengenai COVID-19.

  • 11 Maret 2020
  • Oleh: Dinas Kesehatan Kota Denpasar
  • Dibaca: 2061 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

dr. Luh Putu Sri Armini, M.Kes

01

Jun

Kadus jematang

LPJ padam


31

May

I WAYAN YOGA ANJASMARA

Gorong gorong mampet


29

May



Apakah Informasi yang tersaji pada Website Dinas Kesehatan Kota Denpasar, bermanfaat bagi Anda?